Produksi Biskuit Kelor KUSIBUK Jadi Pilihan Solusi Stunting

Proses Biskuit Kelor Kusibuk Jadi Pilihan Solusi Stunting
BAPEDA, Dinas Kesehatan Aceh Tamiang , dan PUSKESMAS rantau mengunjungi rumah produksi biskuit kelor KUsIbuK yang bertempat di desa kampung durian kecamatan rantau, Aceh Tamiang pada kamis (30/12/2021).

Liputanesia.co.id, Aceh TamiangBAPEDA, Dinas Kesehatan Aceh Tamiang , dan PUSKESMAS rantau mengunjungi rumah produksi biskuit kelor KUsIbuK yang bertempat di desa kampung durian kecamatan rantau, Aceh Tamiang pada kamis (30/12/2021).

Pada kesempatan tersebut Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia BAPPEDA Aceh Tamiang Irma Destika Irawan ,S.STP.MSP menyampaikan tujuan kunjungan tim ke lokasi “ini merupakan kunjungan awal sebelum nanti kedepannya BAPPEDA akan melakukan proses pendampingan produksi biskuit kelor. Biskuit kelor dianggap mampu menjadi salah satu pilihan asupan tambahan untuk permasalahan stunting,khususnya di Aceh Tamiang.”

Bacaan Lainnya

“Kita harapkan inovasi dari produksi kelor yang diracik menjadi biskuit ini bisa diproduksi sesuai standar produksi Nasional indonesia. Namun itu akan kita jalani secara bertahap. Untuk langkah awalnya kami akan melakukan peliputan proses produksi untuk selanjutnya mengevaluasi kebutuhan yang perlu dipersiapkan untuk bisa sesuai standar tadi” ujar irma.

Bu fajar selaku ketua kelompok KUSIbuK (Kelompok Usaha Kreasi ibu ibu kreatif) sangat mengapresiasi sambutan dan perhatian pemerintah daerah. “Berbekal Modal awal kami secara kelompok saat itu Rp.290
000.-. Dengan memanfaatkan potensi kelompok yang sama- sama kami berdayakan. Alhamdulillaah mulai banyak yang berminat dengan produksi olahan kelor ini”.

“Ada banyak jenis hasil olahan kelor yang sudah kami hasilkan. Mulai dari teh kelor, kue kelor, coklat, cookies(biskuit), minuman segar yang dipadukan dengan lidah buaya dan puding kelor karamel yang kami suguhkan sekarang ini”

“Dari sekian banyak jenis produk baru teh kelor yang sudah memiliki nomor registrasi produk. Untuk beberapa jenis lainnya masih dalam pengurusan. Semoga bisa disusul oleh produk lainnya¬† agar bisa kami lanjutkan untuk mengurus label halal dari MUI.” Cerita bu fajar lagi bahwa ada beberapa permintaan produk untuk bisa masuk swalayan dan minimarket lokal mau pun daerah. “Hanya saja karena masih belum ada label halal jadi masih kami tunda dulu”.

Semoga dengan perhatian pemerintah Aceh Tamiang bisa membuka lebih banyak kesempatan dan peluang buat produksi kelor Aceh Tamiang jadi semakin berkwalitas sehingga bisa menjadi satu lagi ciri khas Aceh Tamiang.

Pos terkait