Kementerian LHK Sita 8 Unit Dump Truck Dan 2 Unit Excavator

Whatsapp Image 2021 09 23 At 18.33.20
Photo yang diduga Penyitaan alat berat dari PT YBP brupa 8 unit dumptruck ban 10 ( tronton ) dan 2 unit excavator, Rabu (22/9/2021).

Liputanesia.co.id, Lingga – Kedatangan kementerian lingkungan hidup dan kehutanan turun ke kabupaten Lingga dan menyita alat berat serta memberi pns line pada lokasi areal KP PT Yeyen Bintan permata (YBP), Rabu ( 22/9).

Berada di lokasi desa tinjul kecamatan singkep barat. Pemberian pns line ini setelah satu malam Berada di lokasi KP tambang PT YBP. Penyitaan alat berat dari PT YBP brupa 8 unit dumptruck ban 10 ( tronton ) dan 2 unit excavator.

Bacaan Lainnya

Turunnya dari KLHK di perkirakan sebagai tindak lanjut dari kunjungan kerja anggota DPR RI Abdul Wahid berkunjung ke Lingga sejak Senin (16-18/8) lalu.

Wakil rakyat di Senayan dari komisi VII yang membidangi energi, industri, riset dan teknologi ini terkejut ketika melihat aktivitas perusahaan PT YBP di Desa Tinjul, Kecamatan Singkep Barat.

Perusahaan yang memegang izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi sejak tahun 2010 dan mendapat perpanjangan izin tahun 2018, namun tidak mengurus Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan dari Menteri LHK.

Saat melakukan kunjungan ke lokasi IUP PT YBP , anggota DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Riau itu bahkan tak menemukan seorang pun karyawan atau pengurus perusahaan di Lokasi.

Kami tidak anti investasi, tapi patuhi aturan mainnya.

Bayangkan sudah 11 tahun mengantongi IUP dan menambang di kawasan hutan tanpa izin Menteri LHK.

Ada apa ini? Siapa yang bertanggung jawab terhadap kerusakan hutan ini,” kata Wahid.

Abdul Wahid semakin geram setelah mengecek koordinat lokasi tambang perusahaan yang beroperasi di kawasan hutan tanpa izin.

Perusahaan juga mengangkut mineral dari luar IUP.

“Ini jelas pidana. Aparat penegak hukum tak boleh membiarkannya,” tegasnya.

Terhadap kegiatan penambangan di kawasan hutan tanpa izin dan di luar IUP, Abdul Wahid menyebut PT YBP dapat dijerat dengan Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dan UU No 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Wahib menjelaskan, dalam Pasal 17 ayat (1) UU No 188 Tahun 2013, setiap orang dilarang membawa alat-alat berat, melakukan kegiatan penambangan, mengangkut, membeli dan menjual hasil tambang di dalam kawasan hutan tanpa izin Menteri.

“Bagi yang melanggar dapat dipidana penjara paling singkat 8 tahun dan paling lama 20 tahun, serta pidana denda paling sedikit Rp20 miliar dan paling banyak Rp50 miliar,” ujarnya.

Selain itu, di dalam Pasal 161 UU Nomor 3 Tahun 2020, sanksi pidananya juga di tegaskan, bahwa setiap orang yang menampung, memanfaatkan, melakukan pengangkutan dan penjualan Mineral yang berasal dari luar IUP dapat dipidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp100 miliar.

Selain meninjau lokasi IUP PT YBP , Wahid juga mengunjungi lokasi PT Telaga Bintan Jaya, PT Citra Semarak Sejati dan PT Growa Indonesia di Singkep Barat, serta PT Sanmas Mekar Abadi di Singkep Selatan.beberapa waktu lalu ( 16 – 18 agustus ).

Kedatangan dari KLHK juga di dampingi dari kehutanan provinsi Riau dan satpol PP Lingga.saat ini alat yang di sita di parkir di kawasan implasment eks penambangan timah singkep. Sampai Berita ini di tayangkan, dari KLHK ataupun pimpinan tim dari KLHK blom dapat di konfirmasi.

Pos terkait