![]() |
Foto terkini kondisi jalan berlubang di Simpang Pase, Kota Lhokseumawe, Jumat (4/4/2025)/Liputanesia/Foto: Ibnu. |
Tapi kenyataannya, Proyek tambal sulam ini tak ubahnya seperti ritual tahunan berulang, tidak efektif, masih banyak yang berlubang, rusak, dan membahayakan, dan mengundang tanda tanya publik.
Proyek yang rutin muncul setiap tahun itu, bisa dibilang seperti proyek “kue ulang tahun,” diduga dikerjakan oleh rekanan yang itu-itu saja, lubang yang ditambal hanya bertahan sebentar.
Berdasarkan data dari Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Lhokseumawe, anggaran tambal jalan tahun 2023 mencapai berkisar Rp. 947 juta.
Sementara, pada Tahun 2024, nilainya sedikit turun berkisar Rp. 940 juta. Meski demikian, pemandangan di lapangan seperti di kawasan Jalan Pase dan sekitarnya, justru menunjukkan kegagalan, kerena jalan berlubang masih banyak ditemukan di setiap titik ruas jalan di wilayah Kota Lhokseumawe.
Tim Liputanesia.co.id menelusuri sejumlah titik di pusat kota. Di beberapa lokasi, lubang besar terlihat jelas, bahkan sebagian merupakan bekas tambalan tahun sebelumnya yang kembali rusak. Diduga campuran tak menyatu kuat dengan aspal lama, rapuh dan mudah tergerus.
Proyek yang semestinya menyelesaikan masalah, justru tampak seperti menjadi ladang basah. Warga jadi korban, rekanan panen dapat proyek seperti “kue ulang tahun” setiap tahun.
Salah satu warga mengungkap, “Lubang di depan toko saya sudah lama, tapi tidak diperbaiki bahkan kami sendiri pernah menambalnya agar tidak ada korban,” kata warga di Simpang Pasee, Jumat (4/4/2025).
Ia menambahkan, Beberapa orang pernah jatuh karena tidak terlihat saat tergenang air. Apalagi saat hujan, air menutup lubang, jadi pengendara sering terperosok,” tandasnya.
Liputanesia.co.id telah mencoba menghubungi pihak Dinas PUPR Kota Lhokseumawe melalui pesan WhatsApp untuk mengonfirmasi persoalan ini. Hingga berita ini diterbitkan belum ada tanggapan.